Ahmad Saefudin Sopir angkot
Kisah Saefudin, 25 Tahun Setia Jadi Sopir Angkot Tegal yang Tergilas Zaman
TEGAL — japenews.com - Industri transportasi umum konvensional kian terjepit oleh perkembangan zaman. Kisah pilu sekaligus perjuangan ini dialami oleh Saefudin (69), seorang sopir angkutan kota (angkot) asal Kecamatan Dukuhturi, Kabupaten Tegal, yang telah mendedikasikan hidupnya di balik kemudi selama 25 tahun.
Saat ditemui oleh awak media pada Minggu, 20 September 2026, pria senja ini membagikan kisah pasang surut profesinya yang kini kian memprihatinkan. Saefudin mengenang masa kejayaannya dulu saat ia berhasil memiliki 3 unit angkot. Namun, kerasnya persaingan dan penurunan jumlah penumpang memaksa asetnya menyusut, hingga kini hanya tersisa 2 unit saja.
Dulu Bisa Makan Sate Kambing, Sekarang Cari Setoran Saja Susa
Saefudin menceritakan betapa jauh berbedanya pendapatan menarik angkot antara masa muda dengan kondisinya saat ini. Dahulu, hasil dari menarik angkot sangat lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, bahkan tergolong mewah pada masanya.
"Dulu waktu saya masih muda, hasil narik angkot itu bisa buat makan sate kambing setiap hari di siang hari," ujar Saefudin mengenang masa keemasannya.
Berkat kerja kerasnya di jalur aspal, Saefudin bahkan sukses membangun rumah sendiri dan menyekolahkan ketiga anaknya hingga tuntas.
Namun, realitas hari ini berbanding terbalik. Kehadiran transportasi online dan kendaraan pribadi membuat angkot kian sepi peminat. Saefudin membeberkan bahwa tarif sewa atau setoran angkot saat ini merosot tajam, hanya berkisar Rp 50.000 saja per hari. Nilai itu pun masih sangat sulit untuk dicapai.
"Kalau sekarang, cari uang buat setoran saja susahnya bukan main," keluh Saefudin menutup pembicaraan.
Kisah Saefudin menjadi potret nyata dari potret redupnya transportasi angkot di Kabupaten Tegal, di mana para sopir tua bertahan hidup di tengah gempuran modernisasi transportasi.
reporter Teguh
